Siapakah itu? atau…apakah itu?
jawabannya akan berbeda jika ditanyakan pada personal yang berbeda juga. kepentingan yang berbeda tergantung tingkat essential-nya.
tukang bakso akan menjawab urat nadi hidupnya adalah sapi. karena bahan baku pentol bakso tidak lain adalah daging sapi (dengan banyak kanji, tentunya).
tukang parkir akan menjawab urat nadi hidupnya adalah semprit A.K.A peluit. karena kalo tidak disemprit, pengemudi kendaraan yang pura-pura budhek akan melindasnya dengan senang hati.
lain lagi bapak polisi kita yang terhormat. pistol adalah belahan jiwanya. baik untuk sekedar aksi menembak burung dan tokek, ataupun untuk menembak maling jemuran apes yang bergaya kabur ala gangster di depan bapak polisi terhormat ini.
mungkin jawaban anda akan beda dengan mereka. atau saya. atau bapak presiden, misalnya. tapi itu tak jadi soal. hanya kadar ke-eksisan “benda/makhluk” itu toh yang terpenting. tak tergantikan.
kalau saya sendiri, bagi saya yang paling penting adalah ramzy . dan karena ramzy saya masih 2,5 th, tentu dia butuh pengasuh. atau baby sitter sebutan untuk kalangan atas. berhubung gaji mbak ijah tidak mencapai standard UMR ke-baby sitter-an, maka saya tetap menyebut posisinya sebagai mbak ijah. bukan pembantu, babu atau pembokat, dia agak sedikit diatasnya walaupun bisa di multitasking-kan. Jadi posisinya tetaplah mbak ijah.
dan dialah urat nadi saya.
Pekerjaannya bisa dianggap lumayanlah. Tidak bisa dikatakan lebih, tapi setidaknya dia sudah mencapai kapasitas dan bisa diandalkan sebagai “mbak ijah”. Urusan mengasuh ramzy, bolehlah. urusan rumah tangga, okelah. tak ada masalah hanya sedikit perbaikan sana- sini untuk kesalahan sepele.
Berkat dia, saya bisa bekerja dengan tenang , ngeblog dengan tenang, maen facebook dengan gembira, tanpa harus pusing memikirkan urusah rumah yang ruwet dan bikin sembelit itu. Sesekali menelepon rumah, kontrol sedikit…dan segalanya berjalan lancar. Pulang kerja, hanya tinggal bermain dengan ramzy, dan tidur….Bangun pagi sudah ada sarapan dan mobil bersih mengkilap. tinggal santap sambil menikmati gossip di tipi..
ooww…benar-benar life in peace and harmony…
sampai petaka itu datang.
sampai libur panjang akhir tahun celaka itu datang.
mbak ijah minta cuti!!!!!
dengan alasan embahnya sakit-lah, mau mbangun WC-lah (selama ini keluarga mbak ijah kalau mau buang hajat harus menyabung nyawa berlari satu kilometer ke kali berarus deras, melewati rawa dan membelah gunung kapur!!! ini sungguhan, bukan hiperbola!!!)
OOoohhh…tak ingin dilaporkan Disnaker atas kerja rodi di bawah umur yang saya lakukan (fyi, mbak ijah saya masih belasan tahun)..dengan sangat amat terpaksa dan banyak syarat saya mengabulkan permintaan cutinya.
Setengah berharap embahnya yang tua itu jangan mati dulu, setidaknya untuk 10 tahun ini, agar mbak ijah cepat kembali dan tidak pulang-pulang lagi…
dan berharap banyak agar kalaupun pembangunan WC masuk desa itu tidak sukses setidaknya baguslah kalau sementara mereka dilanda sembelit agar tidak sering-sering maraton ke kali…
Atau para pria di desa mereka terkena penyakit menular seksual, kebotakan dini, lemah syahwat, disfungsi ereksi, wasir, sehingga tidak ada kemungkinan mbak ijah kawin dalam waktu dekat…
Sungguh Doa yang Tercela….
Dan Tuhan menghukum saya dengan liburan yang sangat melelahkan baik lahir maupun bathin….
Dimulai dengan mengatasi si kecil ramzy yang ternyata tidak semanis wajahnya. Untuk menyuapkan sesendok nasi, saya harus mengejarnya keliling rumah, mengempitnya di paha dan menjejalkan makanan itu ke mulutnya (sungguh ibu yang tak becus). Ramzy membalas penyiksaan itu dengan menyemburkan semua nasi ke wajah saya. Hobinya mengunci diri di kamar, mengacak pakaian di lemari dan mengecat layar TV saya dengan krayon…
Walaupun akhirnya dia mau makan, itupun dengan membiarkannya ber-rollerblade dengan dua keping CD original saya…hiks.. RATM dan SOAD saya yang malang…
Kegiatan selanjutnya tak kalah menyebalkan. Akibat cuaca yang dingin, dengan penuh kasih sayang saya menyiapkan air hangat untuk mandi si kecil.
Balasannya : dia pipis tepat diatas bak air hangat.
Uti membelikan ramzy puzzle.
Balasannya : dia membuang bagian2nya ketika kami pulang naik mobil…Saya harus mengumpulkan sampai malam menyusuri jalan perumahan yang penuh dengan eek anjing. Belum lagi tragedi dikejar siberian husky raksasa yang nongkrong di ujung jalan.
Kami bingung setengah mati mencari si kecil yang ngambek akibat dilarang main tusuk pedang dengan penebah.
Ternyata : dia tidur nyenyak dalam lemari pakaian saya.
Dan setan malaikat kecil saya itu sudah tak mempan dengan berbagai hukuman. dari dicubit, dikunci di garasi yg gelap, dikurung di sarang kecoa, dia tidak menangis. sama sekali tidak. saya sampai heran. Tapi sekalinya keinginan dia ditolak, menangisnya bisa berjam-jam. dari jeritan ala sinetron hidayah sampai tangisan india. aktingpun dilakukan dari pura-pura membenturkan kepala di dinding, sampai ancaman membanting gelas-piring-pecah belah yang bisa dia gapai.
Teror liburan tidak berakhir di ramzy. Cucian yg menumpuk, setrikaan, rumah berantakan adalah pemandangan sekaligus pekerjaan saya sehari-hari. Belum layanan supir yang saya berikan pada famili yang berlibur di rumah. Nonstop drive from 7 am till 11 pm!!!!Habis itu masih harus mencuci piring-baju, menyapu dan menidurkan jagoan kecil saya itu.
Sungguh saya merindukan mbak ijah
Sungguh boyok saya lepas dari persendian..
SMS berikutnya dari mbak ijah benar-benar membuat boyok saya melorot sampai kaki.
“Ma,mbak ijah belum bisa mbalik. ini mencret ndak sembuh-sembuh”
Ternyata Tuhan memutarbalikkan doa saya dari wabah sembelit menjadi wabah mencret.
BAGUSSSS!!!!!!

oleh-oleh liburan....







