Jangan syak wasangka dengan judul diatas. Jangan dikira saya Dinas luar kota dengan Bos trus kami sekamar dan bercinta dengan HOT. Yang benar adalah, kami memang sekamar, karena beliau perempuan. Dan kami tidak bercinta karena kami bukaan lesbian dan masih sangat tergoda dengan laki-laki bau merang.
Seringkali pekerjaan saya mengharuskan untuk bepergian, tidak hanya keluar kantor tapi juga keluar kota dan pulau (Bos, saya sangat ingin keluar negri!!!). Di kantor saya dahulu, saya seperti manekin pajangan alias ngga boleh keluar kantor. Kalau ada yg ingin meminta jasa kami silakan bertandang ke kantor . Mereka pun boleh memilih, mau ditemani oleh siapa. Hmmm…deskripsi yg menyesatkan berkonotasi tempat memajang manekin cantik-hidup di gang-gang suatu tempat Surabaya Barat.
Bukan, pekerjaan saya bukan dalam bentuk jasa yang mengencangkan otot paha dan urat leher tersebut. Eman-eman sekolahku. Eman-eman duit wong tuwo-ku. Apa yang saya lakukan masih berhubungan erat dengan ijasah Sarjana Teknik Arsitektur yang saya miliki. Yups, urusan memperbaiki tampilan ruang atau bahasa kerennya desain interior. Cuman yang dulu musti ngendon di kantor, yang sekarang ini justru musti keluyuran.
Karena saya anak kalong (sempat diadopsi sebentar oleh keluarga kalong langit) maka keluyuran adalah – bahasa inggrisnya- my middle name. Sophia Roosma Keluyuran Hardeny. Kebutuhan premier setelah makan. Nggak pake bajupun ngga masalah asal masi bisa keluyuran. Sejak umur 3 th sudah minggat dan ngeluyur nggak jelas di got2 pinggir jalan. Setelah dewasa semakin menjadi. Keluyuran ngga hanya di tempet tikus beranak, tapi juga tempat jin buang hajat. Ijin kadang saya acuhkan. Karena seperti tipikal ibu2 yg punya anak perempuan di seluruh dunia ini, sangat tidak mungkin mendapatkan restu ibu apabila saya meminta ijin untuk mendaki gunung bersama gerombolan laki2 yang juga tidak jelas bentuk dan rupanya itu.Tetapi aneh bila saya meminta ijin untuk “nge-mall” bersama manusia2 hedon ciptaan jaman, ibu saya langsung mentransfer rupiah berlebih dengan tujuan bentuk saya bisa di make over menjelma menjadi separuhnya saja dari wanita2 asal venus tersebut. Makhluk yang justru membuat orang tua saya bisa bangkrut lebih cepat daripada gerombolan pria tak pernah mandi itu. Kadangkala saya tak mengerti pola pikir orangtua saya…
Kembali ke Perjalanan Dinas. Pepatah bilang, “Cintailah pekerjaanmu maka kau akan merasa nyaman menjalankannya”. Karena sangat tidak mungkin untuk mencintai Bos saya, maka dengan senang hati saya berusaha untuk mencintai pekerjaan saya. Untuk urusan ini, Perjalanan Dinasnya. Merambah Pulau Jawa atau menyusuri Pulau2 di Timur Indonesia, menjadi agenda bulanan bahkan mingguan saya. Walaupun sangat jarang kesempatan untuk bisa bertamasya keliling pulau, atau foto2 di tempat wisata, perasaan saya sudah sangat senang “hanya” dengan menginjakkan kaki di tempat lain tersebut.
Mungkin sudah puluhan kali saya menginjak Makassar. Tapi hanya di Bandaranya saja untuk kebutuhan transit. Itu saja sudah membuat saya merasa pernah ke kota Makassar. Begitulah.
Terakhir saya pergi jauh adalah ke sebuah pulau di Maluku Utara. Beruntung saya menemukan teman2 yang mau mengantar saya keliling pulau dan mengabadikan sejumlah view. Mungkin beberapa foto sudah pernah dilihat di Friendster. Dan beberapa foto saya comot dari filenya bangpay tanpa ijin (bangpay, nyuwun…..). Hanya ingin mengungkapkan keindahan suatu tempat yang terabaikan pembangunan dan pilkadanya oleh pemerintah…
Kami berangkat keliling Pulau Ternate jam 1 siang, tepat setelah saya menyelesaikan presentasi dan membuat Guide gratisan saya menunggu cukup sabar. Menyenangkan sekali melihat pemandangan yang sangat beda dari keseharian saya di surabaya. Disini yang kita lihat tidak melulu rumah tapi Laut dan gunung di sisi satunya. Sepertinya kami terus menanjak, sampai akhirnya berhenti di Danau Ngade untuk memuaskan hasrat kantung kemih kami. Danau yg konon ada buaya putihnya dan dahulu kala bekas pemukiman suku beraliran sesat (tx Mr T for d informasinya). Menurut cerita para guide, gravitasi disitu sangat kuat sehingga pernah ada helikopter yang tersedot masuk ke dalamnya. dan banyak cerita mistis lain yang tidak ingin saya bahas disini. Nanti blog saya jadi ajang klenik dan perdukunan. saya tidak mau itu.
Perjalanan berlanjut menuju pantai Sulamadha, makan pisang goreng khas setempat yg dicocol dengan sambal. Sewa perahu di tempat itu 50 rebu dan hanya sampai di teluk hall. Mahallll….Untuk berjalan kaki menuju teluk tersebut membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan landscape yang naik turun. Tidak disarankan memakai hak tinggi pada kondisi ini. Bisa ter”plecuk” dan kalo beruntung tidak masuk jurang.
Sewa perahu di teluk hall lebih murah. 20 Rebu satu jam dan mendayung sendiri alias bisa tidaknya kita kembali tergantung kemampuan mendayung dan membaca arah angin karena kalo terseret bisa2 kita sampai manado dan masuk koran kolom dukacita. Tukang Perahu tetap untung dengan menagihkan ongkos perahu ke ahli waris kita. Begitulah akhirnya kami berusaha dengan otot lengan bisep untuk bisa kembali tepat waktu dan berbadan utuh.
Kelelahan akibat mendayung bebas liar memutuskan kami untuk kembali ke kota dan bersantap petang. Sop Saudara menjadi pilihan kami. Selain rasanya sedap untuk ukuran pulau yg minim makanan enak, harganya juga tidak semahal kepiting kenari. Huahhh….akhirnya terkabul juga keinginan saya untuk memutari pulau Ternate ini…
Hanya saja, kepinginan utama naik puncak Gamalama belum kesampaian karena kendala cuaca dan waktu. Kapan nih…
—-Untuk Para Guide yg manis2, terimakasih!!!! Semoga keinginan mutasi kalian dikabulkan secepatnya—-











