Posted by: mbadeni | September 10, 2008

Hey, kau jadikanlah dirimu seperti yang kau mau..

bukan iklan rokok atau sepenggal syair dari musisi favorit saya (Bondan Prakoso-Xpresikan)…

Cuma, alangkah enaknya hidup ini kalau bisa menjadi seperti yang dinyanyikan “si lumba-lumba” tersebut. Masalahnya kadang butuh ego super tinggi untuk bisa mewujudkan itu. Dan juga rasa tak peduli lingkungan ,baik yang hidup atau mati. Sangat sedikit sekali perwujudan dari “apa yang kumau” itu bisa sinkron dengan ekosistem di sekitar kita.

Apalagi bila slogan itu keluar dari hati abg yang menganggap dirinya sudah tau dunia, sudah menemukan jatidiri dan dengan sok tahunya merasa tahu kapan dia akan mati…

Hasilnya adalah sebuah pendurhakaan. Baik kepada orangtua, atau dirinya sendiri. Untuk bisa menjadi seperti yang kumau memang euforia tujuan akhirnya. Tanpa dia tahu, kesenangan itu hanyalah temporary, kemudian hibernasi tanpa tau kapan bisa bangun lagi.

Saya pernah mengalaminya. Ketika dalam usia awal tetek tumbuh, saya merasa bahwa hidup akan berjalan seperti yang saya inginkan. Karena selama ini segalanya begitu mudah. Kenapa tidak untuk ke depannya?? begitulah pikiran sok tahu saya.

Dan seperti “jadikanlah dirimu seperti yang kau mau” korelasinya adalah “mendapatkan yang kau mau” yang belum tentu benda yang kau mau itu “mau” untuk kau dapatkan. Seperi orang ingin kaya malah tambah melarat. Pengen duit malah koit. Nah lho. Dan kejamnya kehidupan langsung menampar kau sampai mampus.

Untuk pengalaman cinta pertama saya sangat tidak menyenangkan. Entah karena dada saya rata atau muka saya yang kilap keling tanpa bedak akibat hobi nyolong tebu dan keluyuran, atau karena memang pribadi saya yang tidak wajar itulah yang membuat kisah kasih di SMP berjalan tidak semulus yang saya kira. Tidak seperti yang kumau. Dan kejamnya kehidupan benar-benar menamparku sampai mampus.

Untuk sejenak saya buang keinginan bercinta masa muda dan fokus pada karier. Karena saya pecinta hewan, maka saya sangat ingin mewujudkannya menjadi seorang zoologist. Seperti yang di tipi-tipi. Yang di luar negeri. Bisa sampai afrika dan kelon bareng binatang sabana. Watta life!!

Tapi sekali lagi ke faktor pendurhakaan tadi. Orang tua mana yang membiarkan anak gadisnya kelon dengan kucing garong liar (dalam arti sesungguhnya) di alam antah berantah sana?

Demi respek dan takut masuk neraka, akhirnya keinginan itu terpaksa saya kubur. Kuliah sesuai jurusan hasil rembukan bersama.

Jiwa liar saya bangkit kembali menginjak masa kuliah. Manifestasi dari petualangan semu saya di alam liar sebelumnya. Sempat berkeinginan menjadi tarzanwati. Hidup di hutan dan melepas gelar materialistis saya. INI HIDUP YANG SAYA MAU!!!!

Seperti film masa kini ( referensi dari sahabat saya, bangpay ) yang berjudul INTO THE WILD, tokoh utama dalam film itu benar2 bisa menjadi yang dia mau. Tanpa beban, tanpa tanggungjawab, walaupun akhirnya  kejamnya kehidupan benar-benar menamparnya sampai mampus. Setidaknya dia berhasil mewujudkan semua kebebasannya. Dan pendurhakaan kepada orangtua tidak terlalu dibahas di sana.

Seperti semua manusia asia, indonesia pada khususnya, rasa toleran dan “gak enak ati” masih mendarah daging. Yang membuat kita membuang keinginan soliter kita menjadi keinginan baru yang lebih sosial. Yang membuat tanggungjawab pada semua orang menjadi sangat baku. Dan materi adalah nomer satu. Dan ketika Bondan berseru “Hey, kau jadikanlah dirimu seperti yang kau mau” sebagian besar orang yang sudah terjebak dengan pola pikir dogmatis (seperti saya saat ini) akan menjawab ” Wah, Mas…kayaknya untuk sekarang ini saya pengen jadi orang kaya ajah deh…yang banyak duit. Yang bisa menafkahi anak bini atau beli sepatu manolo..”

Seperti orgasme yang punya klimaks dan antiklimaks begitupun keinginan manusia. Beberapa yang bebal dan keras kepala akan menjadi sperma yg menggumpal di celana. Yang biar dipaksakan masuk pun takkan bisa membuat hamil. Dan begitulah keinginan tarzanwati saya. Yang biar dipaksapun tidak akan membuat kebahagiaan kecuali diri saya sendiri (itu juga kalo tidak keburu mampus dilahap buaya). Tidak akan bermanfaat kecuali bagi ego saya yang sekeras otak udang itu….

Pelampiasannya adalah..kebiasaan keluyuran saya itu. Dalam kerjaan atau dalam kota bersama komunitas kecil saya. Bisa membuat hepi semua orang. Bos, anak, bojo dan mba ijah… Memuaskan ego semua pihak. That’s it.

Buat semua orang yang masih kepingin menjadi yang dimau, segera sinkronisasikan keinginan kalian dengan kondisi fisik, usia dan lingkungan. Mumpung sekrang jaman reformasi. Tidak akan ada yang melarang-larang. Paling juga tembak di tempat (pastikan sebelum itu anda sudah melaksanakan keinginan anda sekalian, biar nggak rugi dunia akherat).

Takkan lari gunung dikejar

Yang lari kalau dikejar itu maling!!!

—referensi lagu : unity album by Bondan Prakoso (n Fade 2 Black)—

—saya tidak punya related pic, masa mau majang fotonya Bondan, nanti dikira saya naksir??!! jadi diusahakan jangan bosan baca postingan saya yang banyak kalimat ini—

Posted by: mbadeni | September 3, 2008

Perjalanan Dinas with Love

Jangan syak wasangka dengan judul diatas. Jangan dikira saya Dinas luar kota dengan Bos trus kami sekamar dan bercinta dengan HOT. Yang benar adalah, kami memang sekamar, karena beliau perempuan. Dan kami tidak bercinta karena kami bukaan lesbian dan masih sangat tergoda dengan laki-laki bau merang.

Seringkali pekerjaan saya mengharuskan untuk bepergian, tidak hanya keluar kantor tapi juga keluar kota dan pulau (Bos, saya sangat ingin keluar negri!!!). Di kantor saya dahulu, saya seperti manekin pajangan alias ngga boleh keluar kantor. Kalau ada yg ingin meminta jasa kami silakan bertandang ke kantor . Mereka pun boleh memilih, mau ditemani oleh siapa. Hmmm…deskripsi yg menyesatkan berkonotasi tempat memajang manekin cantik-hidup di gang-gang suatu tempat Surabaya Barat.

Bukan, pekerjaan saya bukan dalam bentuk jasa yang mengencangkan otot paha dan urat leher tersebut. Eman-eman sekolahku. Eman-eman duit wong tuwo-ku. Apa yang saya lakukan masih berhubungan erat dengan ijasah Sarjana Teknik Arsitektur yang saya miliki. Yups, urusan memperbaiki tampilan ruang atau bahasa kerennya desain interior. Cuman yang dulu musti ngendon di kantor, yang sekarang ini justru musti keluyuran.

Karena saya anak kalong (sempat diadopsi sebentar oleh keluarga kalong langit) maka keluyuran adalah – bahasa inggrisnya- my middle name. Sophia Roosma Keluyuran Hardeny. Kebutuhan premier setelah makan. Nggak pake bajupun ngga masalah asal masi bisa keluyuran. Sejak umur 3 th sudah minggat dan ngeluyur nggak jelas di got2 pinggir jalan. Setelah dewasa semakin menjadi. Keluyuran ngga hanya di tempet tikus beranak, tapi juga tempat jin buang hajat. Ijin kadang saya acuhkan. Karena seperti tipikal ibu2 yg punya anak perempuan di seluruh dunia ini, sangat tidak mungkin mendapatkan restu ibu apabila saya meminta ijin untuk mendaki gunung bersama gerombolan laki2 yang juga tidak jelas bentuk dan rupanya itu.Tetapi aneh bila saya meminta ijin untuk “nge-mall” bersama manusia2 hedon ciptaan jaman, ibu saya langsung mentransfer rupiah berlebih dengan tujuan bentuk saya bisa di make over menjelma menjadi separuhnya saja dari wanita2 asal venus tersebut. Makhluk yang justru membuat orang tua saya bisa bangkrut lebih cepat daripada gerombolan pria tak pernah mandi itu. Kadangkala saya tak mengerti pola pikir orangtua saya…

Kembali ke Perjalanan Dinas. Pepatah bilang, “Cintailah pekerjaanmu maka kau akan merasa nyaman menjalankannya”. Karena sangat tidak mungkin untuk mencintai Bos saya, maka dengan senang hati saya berusaha untuk mencintai pekerjaan saya. Untuk urusan ini, Perjalanan Dinasnya. Merambah Pulau Jawa atau menyusuri Pulau2 di Timur Indonesia, menjadi agenda bulanan bahkan mingguan saya. Walaupun sangat jarang kesempatan untuk bisa bertamasya keliling pulau, atau foto2 di tempat wisata, perasaan saya sudah sangat senang “hanya” dengan menginjakkan kaki di tempat lain tersebut.

Mungkin sudah puluhan kali saya menginjak Makassar. Tapi hanya di Bandaranya saja untuk kebutuhan transit. Itu saja sudah membuat saya merasa pernah ke kota Makassar. Begitulah.

Terakhir saya pergi jauh adalah ke sebuah pulau di Maluku Utara. Beruntung saya menemukan teman2 yang mau mengantar saya keliling pulau dan mengabadikan sejumlah view. Mungkin beberapa foto sudah pernah dilihat di Friendster. Dan beberapa foto saya comot dari filenya bangpay tanpa ijin (bangpay, nyuwun…..). Hanya ingin mengungkapkan keindahan suatu tempat yang terabaikan pembangunan dan pilkadanya oleh pemerintah…

Kami berangkat keliling Pulau Ternate jam 1 siang, tepat setelah saya menyelesaikan presentasi dan membuat Guide gratisan saya menunggu cukup sabar. Menyenangkan sekali melihat pemandangan yang sangat beda dari keseharian saya di surabaya. Disini yang kita lihat tidak melulu rumah tapi Laut dan gunung di sisi satunya. Sepertinya kami terus menanjak, sampai akhirnya berhenti di Danau Ngade untuk memuaskan hasrat kantung kemih kami. Danau yg konon ada buaya putihnya dan dahulu kala bekas pemukiman suku beraliran sesat (tx Mr T for d informasinya). Menurut cerita para guide, gravitasi disitu sangat kuat sehingga pernah ada helikopter yang tersedot masuk ke dalamnya. dan banyak cerita mistis lain yang tidak ingin saya bahas disini. Nanti blog saya jadi ajang klenik dan perdukunan. saya tidak mau itu.

Perjalanan berlanjut menuju pantai Sulamadha, makan pisang goreng khas setempat yg dicocol dengan sambal. Sewa perahu di tempat itu 50 rebu dan hanya sampai di teluk hall. Mahallll….Untuk berjalan kaki menuju teluk tersebut membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan landscape yang naik turun. Tidak disarankan memakai hak tinggi pada kondisi ini. Bisa ter”plecuk” dan kalo beruntung tidak masuk jurang.

Sewa perahu di teluk hall lebih murah.  20 Rebu satu jam dan mendayung sendiri alias bisa tidaknya kita kembali tergantung kemampuan mendayung dan membaca arah angin karena kalo terseret bisa2 kita sampai manado dan masuk koran kolom dukacita. Tukang Perahu tetap untung dengan menagihkan ongkos perahu ke ahli waris kita. Begitulah akhirnya kami berusaha dengan otot lengan bisep untuk bisa kembali tepat waktu dan berbadan utuh.

Kelelahan akibat mendayung bebas liar memutuskan kami untuk kembali ke kota dan bersantap petang. Sop Saudara menjadi pilihan kami. Selain rasanya sedap untuk ukuran pulau yg minim makanan enak, harganya juga tidak semahal kepiting kenari. Huahhh….akhirnya terkabul juga keinginan saya untuk memutari pulau Ternate ini…

Hanya saja, kepinginan utama naik puncak Gamalama belum kesampaian karena kendala cuaca dan waktu. Kapan nih…

Danau Ngade. Airnya diam dan mati...dengan background gunung gamalama

Danau Ngade. Airnya diam dan mati...dengan background gunung gamalama

—-Untuk Para Guide yg manis2, terimakasih!!!! Semoga keinginan mutasi kalian dikabulkan secepatnya—-

matahari terbit dari pulau halmahera

matahari terbit dari pulau halmahera

Pulau Maitara dengan background Pulau Tidore, dilihat dari Rumah makan Floridas, Ternate

Pulau Maitara dengan background Pulau Tidore, dilihat dari Rumah makan Floridas, Ternate

teluk hall (bener ya nulisnya begini??). bisa naek perahu dayung sendiri dengan hanya 20 rebu sejam

teluk hall (bener ya nulisnya begini??). bisa naek perahu dayung sendiri dengan hanya 20 rebu sejam

Mesjid Agung Ternate, dicomot dari file-nya bangpay...maap saya ga bisa ngambil angle sebagus ini, musti nyemplung laut dulu..

Mesjid Agung Ternate, dicomot dari file-nya bangpay...maap saya ga bisa ngambil angle sebagus ini, musti nyemplung laut dulu..

Gunung Gamalama dilihat dari Bandara...benar2 kasih tak kesampaian..

Gunung Gamalama dilihat dari Bandara...benar2 kasih tak kesampaian..

Para Tour Guide yang membuat saya awet muda.Termasuk mas2 yg ngambil foto ini ;-)

Para Tour Guide yang membuat saya awet muda.Termasuk mas2 yg ngambil foto ini ;-)

Posted by: mbadeni | September 2, 2008

Tengok Bayi

Secara mendadak saya dikabari bahwa istri teman kantor melahirkan. Mendadak dalam hal ini, juga kalo saya ngga nanya ngga bakal ada yang ngasi tau kalo si baby hizkia sudah ngemut tetek ibunya.

Yang ada saya plonga plongo wae pas temen2 ngobrol tentang sapa jemput sapa,kumpul di mana… saya sampe nanya “Opo tho, mau piknik sebelum puasa?”

Mereka hanya memandang saya dengan nista (please deh, ada istri temen melahirkan dan kamu ngga mau ikut berkunjung???). Akhirnya saya diajak dan memang kepingin ikut, papa hizkia adalah salah satu teman baik saya. Seseorang yang rela mengiringi suara rombeng saya dengan kemampuan bermusiknya.

Sesuai rencana, kami berangkat ber-8 dari Surabaya jam 7 malam pada hari sabtu 30 Agustus kemaren. Menuju Mojokerto, tempat pertama baby hizkia menghirup udara kotor bumi ini. Tempat berkumpul adalah base camp gerombolan kami di rumah Mr Riz & Mrs Arc.

Kenapa nggak berangkat siang? karena beberapa masih disibukkan dengan acara kantor, beberapa masih sibuk bergulat di arena futsal (saya tahu kemampuan teman2 bermain futsal, oleh karena itu saya menyebutnya “bergulat” dan bukannya “bermain”).

Saya sendiri seharian masih sok sibuk dengan urusan kain dan mbak2 penjual yang judes. Menyebalkan sekali berdebat dengan mbak2 yang menganggap saya cuma lalat yang menclok di nasi. Atau karena penampilan saya kurang mendukung? Hanya kaos oblong jeans tanpa make up tak berarti bahwa saya tak punya uang dan tak bisa membeli (bahkan mbak tersebut kalo dijual saya mampu beli). Pola pikir babu asisten toko yang perlu di mesin cucikan.

Kembali ke acara tengok bayi. Malam minggu adalah malam kemacetan. Semua orang berlomba2 untuk jadi wangi dan apik. Semua orang ingin mejeng. Wanita mengumbar pheromon dan pria menangkap dengan testosteron. Semua dengan pasangan masing2. Mas dengan mbak, ABG dan gerombolannya, Supir dan kernet, tak ketinggalan Banci dan satpol PP. Jalanan menjadi begitu penuh. Membuat kami ber-8 tiba tidak tepat pada waktunya.

Jam 10 malam adalah waktu yang sangat tidak sopan untuk berkunjung apalagi tengok bayi. Tapi berhubung kami ber-8 juga bukan orang yang sopan, maka tanpa tau malu hanya malu pada kemaluan diri sendiri, kami merungsek menerobos dan memenuhi rumah si jabang bayi dengan tidak lupa menghabiskan kue2 tuan rumah, mencemarinya dengan gelas2 kotor , menambah limbah kimia dengan air kencing kami dan yang paling kurang ajar, membangunkan kakak hizkia (dengan cubitan yg kami anggap cubitan gemas)yang konon untuk menidurkannya butuh sepuluh bidadari bernyanyi..Yang ada bukan bidadari tapi mertua yang bernyanyi…

mama hizkie, Mrs Arc, me n Ms Ni

Untuk mengamankan kerusuhan, akhirnya papa hizkia mengusir kami dan dirinya sendiri keluar. Kami diajaknya santap malam di sebuah tempat makan sea food depan stasiun mojokerto. Berhubung kami sudah sangat lapar dan tidak kenyang hanya makan udara dan nikotin, maka santap malam kami berlangsung sangat cepat, dalam hal ini kecepatan tangan yang menentukan puas tidaknya kami makan. Siapa cepat dia dapat merasakan semua menu yg ada. Terima kasih untuk papa hizkia yang tanpa kalkulasi membuat kami puas mendesah dan, betul kata Mr Saf, “Itulah resiko orang yang bergaji gede, bro…”

Setelah santap malam penuh kolesterol itu, kami bermobil lagi menuju rumah baru papa hizkia. Rumah yang habis ditingkat, tanpa penghuni. Papa Hizkia belum tega meninggalkan istri dan 2 anaknya sendirian tanpa rewang. (Foto yang diambil adalah ekspresi ganjen kami di Lantai 2, dalam keadaan gelap gulita. Hasil yang anda lihat adalah bukti dari kecanggihan teknologi ato simpelnya, dipotret dengan hape N-95 nya Mrs Arc).

Perjalanan selanjutnya adalah Tempat wisata Pacet, tujuan sesungguhnya adalah mengakrabkan (memuaskan hasrat..) sejoli yang ada diantara kami (nama samaran tidak diperlukan hanya muka samaran yg diperlukan). Saya tidak akan mengekspos mereka berdua karena saya tau indahnya kasih sayang adalah bila terjalin secara natural—bukan gossip.

Sempat terjadi perdebatan antar teman karena mereka sebenarnya ingin berenang tapi tidak ada yang mau memulai duluan. Sempat membuat saya terprovokasi untuk jadi pioneer tapi apa kata dunia? apalagi kata papa ramzy kalo saya pulang dalam keadaan rambut basah dan mendesah (kedinginan).

Akhirnya setelah perdebatan di depan pemandian airpanas yg tidak berguna dan wasting time karena akhirnya tidak ada yg berenang, kami pulang ke surabaya – setelah memulangkan papa hizkia dengan penuh tanggungjawab pada keluarganya.

Perjalanan semalam yang melelahkan. Apalagi mendapati mobil yang saya parkir depan rumah Mr Riz gembosshh…Oh…

—Terima kasih buat Mr Riz yang meminjamkan Cerianya untukku pulang—

Sekilas tentang baby Hizkia. Laki2 mungil dengan berat lahir 3,2 Kg adalah bayi yang sangat manis. Jarang menangis dan tidak menyusahkan ibunya. Kulit kemerahan indikasi kelak akan jadi putih bersih dengan pipi yg montok.. Hmmmm…Selamat datang di bumi yang gersang ini, semoga kelak generasimulah yang akan membuat reformasi alam untuk menghijaukannya kembali…

Posted by: mbadeni | August 26, 2008

Anger Management

Katanya kalo manusia emosi itu lumrah. Nek ngamuk pas wayahe yo wajar.

Lebih tidak adil lagi bagi kaum pria karena wanita boleh marah-marah ketika menjelang datang bulan. Sementara mereka tidak boleh marah-marah ketika mimpi basah. Hormonal je..

Saya mengamati beberapa “kemarahan” yang dihalalkan atau dipaksa halal pada berbagai kasus

  1.  Kalo yang marah orang tua kepada anak. Seperti yang tertulis pada kitab suci dan norma sosial, anak tidak boleh balas memarahi ketika beliau berdua menegur kita dalam skala tingkat tinggi. Bisa kuwalat jambu mete ato jadi batu kayak malin kundang ( tinggal pilih aja mana yg lebih nyaman ) . Paling2 juga dicap durhaka dan masuk neraka, itu pasti.
  2. Suami yang memarahi istrinya. based on the holy Qur’an… para wanita dilarang keras “hanya” membalas dengan “ah” kepada suami. Kalo dalam conteks yang berbeda, ah-uh nya boleh2 aja dan asyik geboy saya kira..
  3. Atasan yang memarahi bawahan. wajarila bin halalila…commonly. karena biasanya yang bikin salah bawahan, yang kena akibat atasan. Yang buang duit kacung yang rugi tacik’e…jadi kalo mau marah ya memang sudah saatnya. Kecuali kalo si bos punya sifat penderma yg berlebih, yang merem aja liat bawahannya bikin bangkrut, itu anugrah. Dan tidak menurut kitab suci manapun ato norma sosial yang baku, sebenarnya tidak ada yang melarang para rantai makanan terbawah itu untuk balas memarahi si bos. Kecuali cacing2 di perut mereka…

Pengecualian dalam membalas kemarahan

  1. Pasangan belum pasutri yang sedang berantem. karena belum ada ikatan, sah2 aja kalo mereka saling bersilat lidah dan tubuh untuk mempertahankan harga diri. Tinggal kuat2an ego aja. ato sapa yang paling berani nekat berbuat ekstrim, misal : percobaan bunuh diri ato menghamilkan diri – yang pasti membuat si pasangan lebih pusing memikirkan hal itu daripada ngungkit2 masalah yg bikin berantem.
  2. Bos yang sakit jiwa. Dalam hal ini si Bos memang hobi memarahi bawahan tanpa alasan yang jelas. Bisa karena dia enek liat rai bawahan, ato gemes aja liat bawahan kerjanya tanpa cacat, ato lagi pengen nyiksa karena obsesi yang nggak kesampaian, ato bener2 sakit jiwa dalam arti harfiah. Wah, boleh banget tuh kalo kita mau bales beliau. Mau diculik, kemudian dimutilasi pelan2 sambil digaremi…ato ditelanjangi di muka umum…ato diracun diam2..itu silakan aja dengan resiko akherat ditanggung sendiri..
  3. Temen yang suka nyebar fitnah dan gosip murahan. Ketika kita berantem, kita dibolehkan untuk main hakim sendiri karena dia juga sudah main reportase dengan membuat kita jadi selebriti dadakan – dalam konteks negatip -

Sebenernya apa sih yang membuat manusia itu marah? KETIDAKPUASAN adalah jawaban yang mewakili segalanya.Ketidakpuasan yang terukur dari passing grade yg dibuat sendiri oleh masing2 individu yang biasanya seenak udel cacing2 perut mereka alias karepe dewe…

Dan melihat sekilas film anger management yang dibintangi oleh adam sandler itu, rasanya lucu aja kalo kita ingin mengatasi kemarahan dengan melibatkan orang lain, biro konsultasi pula!!! Dan karena itu cuman film komersil, konsultan sengaja bikin cara aneh2 yang kalo saya liat bukannya bikin orang tambah “adem” justru bisa gila saking ajaibnya… Kapan2 ingin saya kenalkan konsultan itu pada Bos saya…

Juz think positive ajalah…satu hal yang sulit sekali diterapkan. Makanya itu masih banyak orang yang hobi marah-marah di luaran sana..

Posted by: mbadeni | August 25, 2008

Kulonuwun

Assalamualaikum….

Wah…akhirnya sempet juga saya bikin blog sendiri. setelah protes dari teman yg curhat kalo internet kantornya diblock ngga bisa buka Friendster, ato susah banget ngasi comment di Blog FS, akhirnya saya coba untuk ngulik2 di wordpress ini…

Ide untuk mengangkat Modern Naturalis muncul setelah saya membaca website majalah handicraft indonesia, dimana disitu seorang perajin lampu meja menciptakan sebuah karya yg mengawinkan unsur modern dan naturalis… “elektro plating”-sebuah perkawinan aliran listrik (berupa anoda dan katoda) dan cairan obat selep dengan media kawat logam no 16 yang menghasilkan proses kimiawi sehingga membentuk kawat tersebut terkesan seperti tembaga- sebuah kesan alam yang sedang ngetrend akhir2 ini. salut untuk Pak Jeremi yang berhasil menaturalkan sebuah modernisme. (www.majalah-handicraft.jogja.com)

Karena modern biasanya tidak bersimbiosis dengan natural. karena modern biasanya awal kehancuran dari nature…dan naturalisme terdegradasi menjadi high tech echo dan futuristik…

saya kepingin sekali menjodohkan modern dan natural. karena saya orang modern, yang terpaksa jadi modern karena masa. Dan naturalis adalah usaha saya untuk menyampaikan realita berdasarkan unsur alam yang apa adanya.

Begitulah (nantinya) blog ini.

Apa adanya.

Wassalam

berusaha menjadi unsur natural

« Newer Posts

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.