Posted by: mbadeni | September 2, 2008

Tengok Bayi

Secara mendadak saya dikabari bahwa istri teman kantor melahirkan. Mendadak dalam hal ini, juga kalo saya ngga nanya ngga bakal ada yang ngasi tau kalo si baby hizkia sudah ngemut tetek ibunya.

Yang ada saya plonga plongo wae pas temen2 ngobrol tentang sapa jemput sapa,kumpul di mana… saya sampe nanya “Opo tho, mau piknik sebelum puasa?”

Mereka hanya memandang saya dengan nista (please deh, ada istri temen melahirkan dan kamu ngga mau ikut berkunjung???). Akhirnya saya diajak dan memang kepingin ikut, papa hizkia adalah salah satu teman baik saya. Seseorang yang rela mengiringi suara rombeng saya dengan kemampuan bermusiknya.

Sesuai rencana, kami berangkat ber-8 dari Surabaya jam 7 malam pada hari sabtu 30 Agustus kemaren. Menuju Mojokerto, tempat pertama baby hizkia menghirup udara kotor bumi ini. Tempat berkumpul adalah base camp gerombolan kami di rumah Mr Riz & Mrs Arc.

Kenapa nggak berangkat siang? karena beberapa masih disibukkan dengan acara kantor, beberapa masih sibuk bergulat di arena futsal (saya tahu kemampuan teman2 bermain futsal, oleh karena itu saya menyebutnya “bergulat” dan bukannya “bermain”).

Saya sendiri seharian masih sok sibuk dengan urusan kain dan mbak2 penjual yang judes. Menyebalkan sekali berdebat dengan mbak2 yang menganggap saya cuma lalat yang menclok di nasi. Atau karena penampilan saya kurang mendukung? Hanya kaos oblong jeans tanpa make up tak berarti bahwa saya tak punya uang dan tak bisa membeli (bahkan mbak tersebut kalo dijual saya mampu beli). Pola pikir babu asisten toko yang perlu di mesin cucikan.

Kembali ke acara tengok bayi. Malam minggu adalah malam kemacetan. Semua orang berlomba2 untuk jadi wangi dan apik. Semua orang ingin mejeng. Wanita mengumbar pheromon dan pria menangkap dengan testosteron. Semua dengan pasangan masing2. Mas dengan mbak, ABG dan gerombolannya, Supir dan kernet, tak ketinggalan Banci dan satpol PP. Jalanan menjadi begitu penuh. Membuat kami ber-8 tiba tidak tepat pada waktunya.

Jam 10 malam adalah waktu yang sangat tidak sopan untuk berkunjung apalagi tengok bayi. Tapi berhubung kami ber-8 juga bukan orang yang sopan, maka tanpa tau malu hanya malu pada kemaluan diri sendiri, kami merungsek menerobos dan memenuhi rumah si jabang bayi dengan tidak lupa menghabiskan kue2 tuan rumah, mencemarinya dengan gelas2 kotor , menambah limbah kimia dengan air kencing kami dan yang paling kurang ajar, membangunkan kakak hizkia (dengan cubitan yg kami anggap cubitan gemas)yang konon untuk menidurkannya butuh sepuluh bidadari bernyanyi..Yang ada bukan bidadari tapi mertua yang bernyanyi…

mama hizkie, Mrs Arc, me n Ms Ni

Untuk mengamankan kerusuhan, akhirnya papa hizkia mengusir kami dan dirinya sendiri keluar. Kami diajaknya santap malam di sebuah tempat makan sea food depan stasiun mojokerto. Berhubung kami sudah sangat lapar dan tidak kenyang hanya makan udara dan nikotin, maka santap malam kami berlangsung sangat cepat, dalam hal ini kecepatan tangan yang menentukan puas tidaknya kami makan. Siapa cepat dia dapat merasakan semua menu yg ada. Terima kasih untuk papa hizkia yang tanpa kalkulasi membuat kami puas mendesah dan, betul kata Mr Saf, “Itulah resiko orang yang bergaji gede, bro…”

Setelah santap malam penuh kolesterol itu, kami bermobil lagi menuju rumah baru papa hizkia. Rumah yang habis ditingkat, tanpa penghuni. Papa Hizkia belum tega meninggalkan istri dan 2 anaknya sendirian tanpa rewang. (Foto yang diambil adalah ekspresi ganjen kami di Lantai 2, dalam keadaan gelap gulita. Hasil yang anda lihat adalah bukti dari kecanggihan teknologi ato simpelnya, dipotret dengan hape N-95 nya Mrs Arc).

Perjalanan selanjutnya adalah Tempat wisata Pacet, tujuan sesungguhnya adalah mengakrabkan (memuaskan hasrat..) sejoli yang ada diantara kami (nama samaran tidak diperlukan hanya muka samaran yg diperlukan). Saya tidak akan mengekspos mereka berdua karena saya tau indahnya kasih sayang adalah bila terjalin secara natural—bukan gossip.

Sempat terjadi perdebatan antar teman karena mereka sebenarnya ingin berenang tapi tidak ada yang mau memulai duluan. Sempat membuat saya terprovokasi untuk jadi pioneer tapi apa kata dunia? apalagi kata papa ramzy kalo saya pulang dalam keadaan rambut basah dan mendesah (kedinginan).

Akhirnya setelah perdebatan di depan pemandian airpanas yg tidak berguna dan wasting time karena akhirnya tidak ada yg berenang, kami pulang ke surabaya – setelah memulangkan papa hizkia dengan penuh tanggungjawab pada keluarganya.

Perjalanan semalam yang melelahkan. Apalagi mendapati mobil yang saya parkir depan rumah Mr Riz gembosshh…Oh…

—Terima kasih buat Mr Riz yang meminjamkan Cerianya untukku pulang—

Sekilas tentang baby Hizkia. Laki2 mungil dengan berat lahir 3,2 Kg adalah bayi yang sangat manis. Jarang menangis dan tidak menyusahkan ibunya. Kulit kemerahan indikasi kelak akan jadi putih bersih dengan pipi yg montok.. Hmmmm…Selamat datang di bumi yang gersang ini, semoga kelak generasimulah yang akan membuat reformasi alam untuk menghijaukannya kembali…


Responses

  1. cute baby…!!
    berarti nti klo aq puny anak gentian nengokin mba..
    qta kn mo besanan wakakakakakak!!!

  2. indah : nengokin??? oke!!! cari suami orang surabaya ya!!! soal besanan…mba annisa pohan wis ngajak duluan lho. piye ki?

  3. Oalah den, panggah wae awakmu iku yooo. Piye kabare ki???

  4. Pipiet : apik-apik wae mbakk!!! pean piye kabare? kirim email yo!!! chibinesta@yahoo.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: