Posted by: mbadeni | September 15, 2008

Penghibur tanpa tanda jasa

Seringkali kita harus membayar mahal untuk melihat seseorang menjerit-jerit diatas panggung. Atau merelakan setengah gaji hanya untuk ikut bertaruh ketika praktek homo homini lupus berlangsung diatas ring gulat bebas. Bahkan melihat sapi balapan lari sambil terkencing-kencing karena pantatnya disilet lalu dibumbu cabe-pun kita harus membayar, walaupun jumlahnya tak seberapa.

Pernahkah kita sadar bahwa untuk tertawapun kita harus membayar.

“Ahh…masa sih, saya kan liat mas tukul di tipi, Mbak…masih bisa ketawa gratis tho…secara jaman begini kita nggak perlu lagi bayar iuran tipi..”

Lha apa anda semua nyadar, bahwa untuk melihat tipi itu kan ya butuh TV-nya tho…biarpun sudah mbayar iuran tipi kalo nggak punya tipi, masa mau liat mas Tukul di pantulan cermin jeding (kamar mandi-author)??? kecuali kalau wajah anda mirip mas Tukul, silakan bersyukur….

Sewajarnya manusia dari jaman purba sampai sekarang, dimana pola tukar menukar barang sudah menjadi gaya hidup, untuk dapat TV pun tidak bisa gratis, kecuali maling. Kecuali anda illusionis yang lebih hebat dari David Copperfield , yang bisa mengubah tempeh beras menjadi TV. Kalau anda bisa melakukan itu, saya bertaruh akan mencium pantat kuda!!!! Tak ada yang bisa!!! Semua butuh modal, meennn!!!

Suatu sore saya berbuka puasa di sebuah warung Lontong Balap di Jalan Garuda. Senikmat-nikmatnya saya makan, akan lebih nikmat lagi apabila tidak diganggu oleh sekelompok musisi jalanan yang datang berselang tiap 10 menit. Bukan, bukannya saya tidak menghargai seni (suara saya tidak lebih bagus dari mereka), tetapi frekuensi kedatangan dan cara meminta pamrih mereka itu yang saya kurang respek. Ketika orang masih berkonsentrasi penuh keringat dengan sayuran yang bisa menambah jumlah sperma (sembari berdoa semoga memang benar begitu), mereka merangsek dan memelas hanya untuk mendapatkan 500 rupiah. Trenyuh, memang. Tragis, itulah nasib. Mengganggu, betul. Tetapi tidak untuk dienyahkan atau diusir hanya untuk ego skrotum semata. Dan bukan salah mereka untuk jadi pengamen. Bukan salah ovarium bunda mereka pula, mana ada bunda yang kepingin anaknya jadi pengamen jalanan??? Sekali lagi juga tidak adil untuk menyalahkan Tuhan, karena selain bisa berakibat buruk di akherat, menjadikan diri apatis, ingatlah bahwa Tuhan hanya menciptakan manusia, urusan nasib mereka sendiri yang menentukan.

Memang, sekecil apapun bentuk penghiburan itu, mengganggu atau tidak, menyedihkan atau tidak, dan ketika mata telinga kita dipaksa untuk melihat mendengarkan melodi tak berirama, semua itu tetap tidak gratis. Butuh minimal 500 rupiah dan sepiring Lontong Balap untuk menikmatinya.

Lalu siapa yang harus disalahkan untuk keberadaan mereka? Untuk gampangnya, seperti biasa, seperti dalam sinetron atau debat politik, koran2 berkalimat pedas atau demo mahasiswa, sekali lagi dengan senang hati kita bisa menyalahkan pemerintahan kita, yang dengan manisnya menghadirkan hiburan-tidak-gratis di televisi tentang nikmatnya tidur siang dengan nina bobo nyanyian Presiden… Wewww!!! Murkalah Bapak kita !!! Wong dia saja susah tidur memikirkan nasib orang2 tak jelas macam kita itu!!!

Tapi tolong…teman, tidak semua penidur itu pemimpi…Jangan generalisir kasus. Untuk seorang penidur-pemimpi masih ada seratus pemimpi-pejuang dibaliknya . Dan untuk itu masih akan ada lagi hiburan panjang tak berujung yang bakal disiarkan di televisi-tak-gratis kita itu!!! Wow!!! Tak sabar saya untuk Pemilu!!! Yang pasti tingkah polahnya akan menghibur kita nonstop dan bisa kita akses di koran-tak-gratis atau internet-tak-gratis pun sekali lagi di televisi-tak-gratis kita itu… 

Lalu, sekarang dimana kita bisa mencari hiburan gratis???? Silakan anda lihat topeng monyet yang sedang beraksi di tetangga sebelah lalu kabur tanpa bayar. Itu baru gratis. Tapi durhaka (ingat!!! Darwin masih keukeuh nenek moyang kita monyet!!) dan tak tahu malu. Jangan cemberut kalau suatu hari Tetangga sebelah mantu dan anda tidak diundang. Dia pasti berpikir untuk bayar topeng monyet saja tak mampu apalagi buwuh!!!!

Sampai beberapa saat  saya masih terdoktrin bahwa tidak ada hiburan gratis di jagat raya ini. Bahkan untuk ngeblog lewat internet kantorpun tidak gratis. Kita harus bekerja keras demi uang bos untuk membayarnya. Nonton tipi jaman kos dulu juga tidak gratis. Wong Orangtua saya yang memberikan TV itu jelas-jelas bukan maling kok!!!

Lalu…????

Suatu masa dimana saya curhat pada sahabat saya tentang kejamnya dunia yang menamparku sampai mampus   , dia hanya diam sambil senyum-senyum memandang saya. Jelas tidak gila, wong saya hidup serumah bertahun-tahun bersama dia dan masih hidup sampai saat itu. Jelas juga tidak naksir, karena untuk ukuran pria saja saya kurang menarik, apalagi buat wanita. Yang ada saya bertanya padanya apa yang menbuat dia cengengesan seperti kambing slilitan begitu.

She juz said

“Aku selama ini menjadi tempat curhat kalian. Mendengarkan cerita-cerita aneh kalian. Yang aku sendiri nggak pernah ngalamin. Dan nggak ngimpi mendapatkan masalah seperti kalian. Selama ini hidupku lurus-lurus aja. And i’m doing fine. Buatku, kalian seperti sinetron hidup yang memberiku hiburan gratis sepanjang kita berteman ini..”

Jadi. Ternyata Tuhan itu Maha Adil. Pemurah bagi makhluk yang tak punya uang atau tubuh yang layak untuk digadaikan demi membeli sebuah tipi. Hidup manusia, hewan, bahkan tumbuhan disekeliling kita bagaikan tontonan gratis sepanjang masa.

Ketika saya dan teman masuk ke alam, diamnya gunung , samar pepohonan oleh kabut, birunya air laut menjadi tontonan yang lebih indah daripada National Geographic edisi manapun yang pernah kami lihat. Untuk pergi kesana memang tidak gratis, tetapi untuk menikmati semua itu kita tidak perlu membayar seperti bila kita melihat Lumpur Lapindo.

Ketika bos memarahi saya didepan teman, saya adalah tontonan gratis bagi mereka. Entah menghibur atau tidak. Ketika Ramzy bernyanyi dengan suara tanpa “R” nya itu adalah hiburan gratis bagi kami seisi rumah termasuk cicak di dinding yang secara rutin mengisi bak mandi kami dengan hajatnya.

Pernahkah anda semua sadar bahwa sedikit banyak , apa yang kita lihat dan dengar , akan menjadi pembelajaran , intropeksi terbuka bagi diri kita sendiri? Seanehnya tingkah pola manusia hewan dan tumbuhan disekitar kita, itulah sebenarnya hiburan yang disuguhkan Tuhan pada kita. Tanpa embel-embel (R)remaja ; (BO)Bimbingan orang tua ; (SU)Semua umur..

Kalau Anda ingin menjadi artis milik PH Bumi Semesta ini, silakan bertingkahlaku seaneh mungkin. Niscaya semua orang akan menonton anda. Dan jangan takut untuk dianggap aneh. Kerena aneh itu eksentrik. Dan Ully Artha menjadi terkenal karena dia eksentrik.

Jadi

Selamat menikmati!!!!


Responses

  1. panjang banget……….!!!

  2. hehehehe. just dropped to say thanks! mba, nulis mah tetep ada meaningnya walo acak2an, aku jg msh belajar kok belom apa-apa. masih butuh banyak mencoba hal baru… juga nyari pengetahuan baru… aku uda post baru, silakan dibaca dan dikomen yaa.
    thanks anyway!

  3. Bukan salah bunda mengandung….bukan salah pula bapak menaruh burung…(ya itulah kenikmatan hidup)…..
    di balik kekurangan umat manusia biasanya ada ceria dan senyum luar biasa…….
    di balik rempeyek pun itu ada udang ….makanya enak..maknyuss…

    -di tulis di pc yang keren n joss-

  4. aping : lagi genit, pgen nulis yg panjang-panjang, daripada ngimpiin yang panjang-panjang…whoooo
    gac : tx dah mampir…iye,nulis yang ada di kepala juga berguna, biar ngga jadi kanker otak🙂
    Mr T : gara-gara burung jadi mengandung? piye carane???…terima kasih akhirnya anda menemukan PC yang rendah hati..

  5. haduh bahasa tingkat tinggi,,,
    kepalaku pening

  6. Ha kok sebel sama pengamen? Wong saya gak (terlalu) sebel kok (dulu) sering ditelpon atau didatangi tamu dr jauh yg jualan meja kursi lemari lho… Huahahahaha…

  7. Gratis, memang enak. Belajar dari pengalaman orang juga bisa bermakna “gratis” kita mendapatkannya dengan mudah alias hanya mendengar sedang ia bersusah payah untuk menjalaninya, halah…

  8. indah : pening soalnya disuruh keliling toko emas sama bos ya? huahahaha!!! so enjoy ur multitasking career!!!
    bangpay : wah ya saya ngga jadi sebel kalo model pengamennya kayak “tamu dr jauh yg jualan meja kursi lemari”..hueheheh..-narsis mode on-
    tengku : kalo gratifikasi bagaimana, pak???? huehehe….(hai, tx dah mampir…lam kenal..)

  9. qt harusnya terus bersyukur, masih bisa mengapresiasikan kondisi lingkungan, meski kudu bayar. tukang ngamen aja yg mau nyayi sendiri eh ujung2nya maksa dibayar.

    Sebel, tawa, bt, pun harus bayar, tetaplah Bersyukur.

    Daripada tanpa alasan mereka ketawa sendiri. spt orng gila dijalan.

    Salam kenal

  10. mhasan : betull!!! kita harus selalu bersyukur atas segala yang telah diberikan-NYA…. tx,salam kenal juga!! sering2 main kesini ya!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: